LAPORAN SURVEY
- Vivian 1901461426
- Nerissa Arviana J 1901460770
- Anggita Prahasta 1901460404
- Elisabeth SW 1901478401
- Jessica Lauwrin 1901462302
- Angeline Thalia Wijaya 1901461022
- Novalia 1901486321
PENDAHULUAN
Panti Asuhan merupakan lembaga yang bergerak di bidang sosial untuk membantu anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), panti asuhan merupakan sebuah tempat untuk merawat dan memelihara anak-anak yatim atau yatim piatu. Pengertian yatim adalah tidak memiliki seorang ayah, sedangkan yatim piatu adalah tidak memiliki seorang ayah dan ibu. Namun, tidak hanya untuk anak yatim maupun yatim piatu, panti asuhan juga terbuka untuk anak-anak selain mereka, seperti anak terlantar. Anak- anak yang kurang beruntung seperti yang dipaparkan di atas juga dapat bertempat tinggal di panti asuhan.
Panti asuhan didirikan untuk membina dan mendidik serta memelihara anak-anak agar mendapat kehidupan yang layak baik dari segi ekonomi, sosial, dan pendidikan demi masa depan mereka. Melalui panti asuhan anak didik dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang dapat mengembangkan diri siswa baik dari segi jasmani dan rohani seperti ilmu pengetahuan dan kreativitas. Panti asuhan dapat membentuk pribadi anak menjadi anak yang mandiri dan membentuk sikap diri yang sempurna, panti asuhan memiliki sesuatu yang dapat membuat anak sehingga memperoleh konsep diri yang sempurna sesuai dengan ilmu pengetahuan dan ajaran agama sehingga menjadi anak yang mandiri dan memiliki masa depan yang cerah.
Setiap anak lahir dalam keadaan tidak sempurna, karena itu melalui pembentukan pribadi, pandangan pribadi serta sikap peribadi di tengah-tengah lingkungan tempat dimana seseorang berada lahir berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, sehingga anak memiliki pandangan dan keyakinan terhadap dirinya baik yang bersifat positif maupun negatif.
Menurut Wagnid dan Young (dalam Reich, dkk, 2010) dalam mengembangkan resiliensi, peran religiusitas cukup penting, karena salah satu faktor internal yang mempengaruhi resiliensi adalah religiusitas. Menurut Hardjana (dalam Ghufron & Risnawita, 2010), religiusitas adalah perasaan dan kesadaran akan hubungan dan ikatan kembali dengan Tuhan. Religiusitas menunjuk pada tingkat ketertarikan individu terhadap agamanya dengan menghayati dan menginternalisasikan ajaran agamanya sehingga berpengaruh dalam segala tindakan dan pandangan hidupnya. Jika religiusitas yang dimiliki remaja tinggi maka akan berpengaruh pula pada kemampuan resiliensinya sehingga akan terbentuk sikap- sikap positif, begitu juga sebaliknya religiusitas yang rendah akan mempengaruhi kemampuan resiliensi individu sehingga sikap-sikap yang terbentuk pada diri individu cenderung negatif.
ISI
Pada hari Jumat pada tanggal 3 maret 2017, kelompok kami berdiskusi dan mencara panti asuhan dan panti jompo yang dapat kami kunjungi. Setelah kami mencari di internet, kami menemukan dua tempat yang ingin kami kunjungi. Yang pertama adalah Panti Asuhan Tunas Harapan yang berlokasi di Jl Sutera Cemara II 8 Kompl Alam Sutera, Pondok Jagung, Serpong, Tangerang. Dan yang kedua merupakan Panti Jompo & Panti Asuhan Kemah Beth Shalom, yang berlokasi di Jl. Ciater Rw. Mekar Jaya No.14, RT.2/RW.1, Rw. Mekar Jaya, Serpong, Kota Tangerang Selatan.
Pada hari senin, 6 maret 2017, kelompok kami memulai survey kami pada Panti Asuhan Tunas Harapan yang berlokasi di Alam Sutera. Setibanya kami disana, kami disambut oleh ibu yang mengurus panti asuhan tersebut dengan ramah, kemudian kami menjelaskan maksud dari kedatangan kami yaitu untuk melakukan kampanye mengenai agama dan juga membantu sesama. Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami pun, kami diterima oleh ibu pengurus panti tersebut dan kami mulai menyesuaikan jadwal kedatangan kami dengan panti asuhan tersebut.
Pada hari Jumat, 10 Maret 2017, kelompok kami melakukan survey di lokasi kedua yaitu Panti Jompo & Panti Asuhan Kemah Beth Shalom, yang berlokasi di Jl. Ciater Rw. Mekar Jaya No.14, RT.2/RW.1, Rw. Mekar Jaya, Serpong, Kota Tangerang Selatan. Sebelum kami berkunjung, kami menelefon panti tersebut terlebih dahulu untuk menyesuaikan waktu kunjungan kami, dan kami setuju untuk mengunjungi pada hari Jumat, 10 Maret, 2017 pada pukul 14.00. setibanya kami disana, kami disambut dengan ramah oleh ibu pengurus panti tersebut akan tetapi setibanya kami disana, jadwal panti jompo dan panti asuhan Kemah Beth Shalom sudah penuh, sehingga kami hanya dapat melakukan kegiatan pada bulan Mei.
KESIMPULAN





Tidak ada komentar:
Posting Komentar