Minggu, 23 April 2017

BAB 1

PENDAHULUAN

Panti Asuhan merupakan lembaga yang bergerak di bidang sosial untuk membantu anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), panti asuhan merupakan sebuah tempat untuk merawat dan memelihara anak-anak yatim atau yatim piatu. Pengertian yatim adalah tidak memiliki seorang ayah, sedangkan yatim piatu adalah tidak memiliki seorang ayah dan ibu. Namun, tidak hanya untuk anak yatim maupun yatim piatu, panti asuhan juga terbuka untuk anak-anak selain mereka, seperti anak terlantar. Anak- anak yang kurang beruntung seperti yang dipaparkan di atas juga dapat bertempat tinggal di panti asuhan.
Panti asuhan didirikan untuk membina dan mendidik serta memelihara anak-anak agar mendapat kehidupan yang layak baik dari segi ekonomi, sosial, dan pendidikan demi masa depan mereka. Melalui panti asuhan anak didik dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang dapat mengembangkan diri siswa baik dari segi jasmani dan rohani seperti ilmu pengetahuan dan kreativitas. Panti asuhan dapat membentuk pribadi anak menjadi anak yang mandiri dan membentuk sikap diri yang sempurna, panti asuhan memiliki sesuatu yang dapat membuat anak sehingga memperoleh konsep diri yang sempurna sesuai dengan ilmu pengetahuan dan ajaran agama sehingga menjadi anak yang mandiri dan memiliki masa depan yang cerah.
Setiap anak lahir dalam keadaan tidak sempurna, karena itu melalui pembentukan pribadi, pandangan pribadi serta sikap peribadi di tengah-tengah lingkungan tempat dimana seseorang berada lahir berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, sehingga anak memiliki pandangan dan keyakinan terhadap dirinya baik yang bersifat positif maupun negatif.
Menurut Wagnid dan Young (dalam Reich, dkk, 2010) dalam mengembangkan resiliensi, peran religiusitas cukup penting, karena salah satu faktor internal yang mempengaruhi resiliensi adalah religiusitas. Menurut Hardjana (dalam Ghufron & Risnawita, 2010), religiusitas adalah perasaan dan kesadaran akan hubungan dan ikatan kembali dengan Tuhan. Religiusitas menunjuk pada tingkat ketertarikan  individu terhadap agamanya dengan menghayati dan menginternalisasikan ajaran agamanya sehingga berpengaruh dalam segala tindakan dan pandangan hidupnya. Jika religiusitas yang dimiliki remaja tinggi maka akan berpengaruh pula pada kemampuan resiliensinya sehingga akan terbentuk sikap- sikap positif, begitu juga sebaliknya religiusitas yang rendah akan mempengaruhi kemampuan resiliensi individu sehingga sikap-sikap yang terbentuk pada diri individu cenderung negatif.

BAB 2

POKOK PERMASALAHAN


Di pertemuan terakhir kami pada tanggal 9 April 2017 di panti asuhan Sesama Umat ini kami mengadakan acara makan bersama sebagai tanda perpisahan kami pada anak – anak panti asuhan, kami mengadakan acara makan bersama ini dengan tujuan agar dapat berbagi antar manusia dan menunjukan kepada anak – anak panti asuhan bahwa berbagi itu indah. Selain itu kami memberikan beberapa bingkisan kepada anak – anak serta ibu pengasuh di panti asuhan Sesama Umat.

BAB 3

METODE KEGIATAN

Pada pertemuan terakhir kami melakukan acara makan bersama dengan anak-anak yaitu MCdonald’s. Pada jam 12 siang sebelum makan siang kami berdoa bersama terlebih dahulu. Setelah mencuci tangan, kami pun makan bersama. Setelah makan bersama kami foto-foto, lalu membagikan bingkisan kepada mereka,.



BAB 4
PELAKSANAAN


Pada  tanggal 9 April, ketika semua sudah berkumpul kita pun pergi ke Panti Asuhan yang berjarak kurang lebih  10 menit. Panti Asuhan yang kami datangi yaitu Panti Asuhan Kasih Sesama Umat yang berada di Alam Sutera. Ini merupakan pertemuan terakhir kita dengan mereka karena itu kami melakukan acara makan bersama. Kami memberikan saus sambal/tomat, mengoper minuman dan lain sebagainya. Mereka sangat senang dengan acara ini, Setelah selesai makan, kita menyuruh mereka untuk berbaris karena seteleh itupun mereka mendapat bingkisan yang telah kita siapkan. Lalu berkumpul untuk foto-foto. Mereka mengucapkan terima kasih kepada kita dan kitapun ikut senang. Setelah semua selesai kami pun berpamitan pada pengurus panti serta adik-adik yang ada disitu.

BAB 5
KESIMPULAN 
Pada pertemuan terakhir ini kami merasa sangat senang karena bisa mengajak anak-anak Panti Asuhan untuk makan bersama. Kami pun sudah mulai terbiasa, melakukan interaksi dengan mereka. Kami merasakan kedekatan dengan mereka, dan mengajarkan untuk saling berbagi satu sama lain selagi kami bisa. 

5.1 Refleksi dari Anggita Prahasta
Pada hari terakhir, kami sadar banyak anak-anak panti yang masih kurangnya perhatian dan kasih saying dari orangtua mereka masing-masing. Saya terdorong untuk ingin lebih peduli kepada mereka agar mereka tetap dapat merasakannya walau bukan dari orang tua mereka. Kami mengadakan makan bersama di ruang bermain hingga membagikan bingkisan-bingkisan yang telah kami siapkan. Kemudian, ditutup dengan salam perpisahan dengan anak-anak dan pengasuh.


5.2 Refleksi dari Angeline ThaliaWijaya
Kunjungan terakhir kami ke panti ditutup dengan acara makan bersama dengan anak-anak dan membagikan souvenir yang disambut meriah oleh anak-anak. Melalui kegiatan makan bersama juga dengan ibu pengurus, saya merasakan kedekatan dengan anak-anak hanya melalui hal-hal sederhana. Seperti memberikan saus sambal, mengoper minuman dan lain sebagainya

5.3 Refleksi dari Elisabeth
Pada kesempatan kami yang terakhir kami pun makan bersama dengan anak-anak disana. Kesempatan kali ini berbeda dengan yang lain karena kami dapat bersama sama makan. Adik-adik di panti sangat bahagia ketika kami makan bersama. Saya belajar bahwa saya sangat bersyukur karena saya dapat memakan makanan yang saya mau tanpa memikirkan hal lain tidak speerti adik-adik yang ada disana, saya bersyukur dengan keadaan yang saya miliki sekarang dan bersyukur atas kesempatan yang ada di hidup saya.

5.4 Refleksi dari Jessica Lauwrin
Pada pertemuan terakhir ini kami melakukan makan bersama, dalam kegiatan kali ini tidak hanya untuk kegiatan perpisahan tetapi kami mengadakan kegiatan makan bersama ini untuk mengajarkan kebersamaan dan saling berbagi satu sama lain.

5.5 Refleksi dari Nerissa Arviana J
Pada pertemuan terakhir ini, kami mengadakan acara makan bersama. Dengan acara makan bersama ini, saya menjadi dapat lebih bersyukur dengan apa yang ada saat ini. Selain itu, setelah melihat anak – anak yatim piatu selalu terlihat bahagia, maka sepahit apapun kehidupan yang dijalani harus selalu berbahagia dan tersenyum

5.6 Refleksi dari Novalia
Pada hari Minggu, kunjungan terakhir kami melakukan acara makan bersama dengan anak-anak panti Asuhan. Mereka sangat senang sekali. Saya pun merasa bersyukur dengan apa yang telah saya miliki.Keadaan disana berlangsung dengan sangat baik.

5.7 Refleksi dari Vivian
Pada pertemuan terakhir ini adalah momen yang paling mengesankan bagi saya pribadi, senang rasanya dengan membawakan mereka makanan. Dengan kesederhanaan kami makan bersama dengan senang dan juga kami memberikan bingkisan kecil-kecil yang menjadi kenang-kenangan bagi mereka semua.

BAB VII

LAMPIRAN





Rabu, 12 April 2017

LAPORAN KEGIATAN 2 - 3 APRIL 2017

LAPORAN KEGIATAN 3 april 2017

LA24
Vivian - 1901461426
Nerisaa Arviana J - 1901460770
Anggita Prahasta - 1901460404
Jessica Lauwrin - 1901462302
Elisabeth - 1901478401
Novalia - 1901486321
Angeline Thalia W - 1901461022

BAB I
PENDAHULUAN

Panti Asuhan merupakan lembaga yang bergerak di bidang sosial untuk membantu anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), panti asuhan merupakan sebuah tempat untuk merawat dan memelihara anak-anak yatim atau yatim piatu. Pengertian yatim adalah tidak memiliki seorang ayah, sedangkan yatim piatu adalah tidak memiliki seorang ayah dan ibu. Namun, tidak hanya untuk anak yatim maupun yatim piatu, panti asuhan juga terbuka untuk anak-anak selain mereka, seperti anak terlantar. Anak- anak yang kurang beruntung seperti yang dipaparkan di atas juga dapat bertempat tinggal di panti asuhan.
Panti asuhan didirikan untuk membina dan mendidik serta memelihara anak-anak agar mendapat kehidupan yang layak baik dari segi ekonomi, sosial, dan pendidikan demi masa depan mereka. Melalui panti asuhan anak didik dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang dapat mengembangkan diri siswa baik dari segi jasmani dan rohani seperti ilmu pengetahuan dan kreativitas. Panti asuhan dapat membentuk pribadi anak menjadi anak yang mandiri dan membentuk sikap diri yang sempurna, panti asuhan memiliki sesuatu yang dapat membuat anak sehingga memperoleh konsep diri yang sempurna sesuai dengan ilmu pengetahuan dan ajaran agama sehingga menjadi anak yang mandiri dan memiliki masa depan yang cerah.
Setiap anak lahir dalam keadaan tidak sempurna, karena itu melalui pembentukan pribadi, pandangan pribadi serta sikap peribadi di tengah-tengah lingkungan tempat dimana seseorang berada lahir berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, sehingga anak memiliki pandangan dan keyakinan terhadap dirinya baik yang bersifat positif maupun negatif.
Menurut Wagnid dan Young (dalam Reich, dkk, 2010) dalam mengembangkan resiliensi, peran religiusitas cukup penting, karena salah satu faktor internal yang mempengaruhi resiliensi adalah religiusitas. Menurut Hardjana (dalam Ghufron & Risnawita, 2010), religiusitas adalah perasaan dan kesadaran akan hubungan dan ikatan kembali dengan Tuhan. Religiusitas menunjuk pada tingkat ketertarikan  individu terhadap agamanya dengan menghayati dan menginternalisasikan ajaran agamanya sehingga berpengaruh dalam segala tindakan dan pandangan hidupnya. Jika religiusitas yang dimiliki remaja tinggi maka akan berpengaruh pula pada kemampuan resiliensinya sehingga akan terbentuk sikap- sikap positif, begitu juga sebaliknya religiusitas yang rendah akan mempengaruhi kemampuan resiliensi individu sehingga sikap-sikap yang terbentuk pada diri individu cenderung negatif.


BAB II
MASALAH

Tanggal 3 April 2017 adalah pertemuan ke 2 kami ke Panti Asuhan Sesama Umat yang terletak pada Sutera Cemara, Alam Sutera. Dengan tema "Mengenal Alam Lebih Baik” sehingga Dalam pertemuan kali ini kami melakukan penanaman tumbuhan "Tauge" kami ingin mengajarkan tentang bagaimana tumbuhan perlu dikasihi dan dirawat agar menjadi hal yang bermanfaat bagi kita semua dan mengajarkan anak-anak untuk mencintai alam sedari kecil sehingga mereka dapat tumbuh menjadi calon-calon penerus bangsa yang mencintai alam yang di tinggali nya. Kami memilih tumbuhan "tauge" karna tauge salah satu tumbuhan yang tidak sulit di tanam dengan mengingat anak-anak masih balita-SD dan tauge salah satu sayuran yang sudah mereka kenal dan sering konsumsi sehingga mereka mengetahui darimana asal tauge dan bagaimana cara nya.

BAB III
METODE KEGIATAN

Kami membagi kelompok kami masing-masing untuk membagikan bahan-bahan yang diperlukan untuk melakukan penanaman "tauge", bahan - bahan yang diperlukan adalah :
1. Gelas plastik
2. Kapas
3. Air
4. Biji kacang hijau
Kami membagi kelompok kami sesuai dengan tugas nya masing-masing, Angeline Thalia membagikan gelas plastik, Jessica membagikan kapas, Elisabeth membagikan biji kacang hijau, Anggita, Novalia, Nerissa dan Vivian membantu dan menjelaskan kepada anak-anak sehingga anak-anak mengerti dengan baik dan juga tidak membuat Panti Asuhan menjadi berantakan.
Cara menanam "Tauge" :
- Sediakan gelas plastik yang bersih
- Lalu kapas yang ada di sobek-sobek kecil dan dimasukkan ke gelas plastik
- Setelah itu basahkan kapas dengan air hingga secukupnya
- Setelah kapas basah masukan biji kacang hijau
Masing-masing gelas plastik yang anak-anak buat diberikan nama dengan spidol sehingga anak-anak tahu mana Tauge yang di tanam mereka.

BAB IV
PELAKSANAAN

Kami berkumpul di Panti Asuhan pukul 15.45 dan kami datang lebih awal karna kami juga ingin mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menanam tumbuhan "tauge" setelah itu kami membagi tugas untuk membantu anak-anak menanam tauge. Pertama-tama kita mengumpulkan anak-anak lalu kita menjelaskan tentang apa itu tauge dan apa manfaat tauge untuk tubuh kita yang baik dikonsumsi lalu kita menjelaskan bagaimana cara menanam nya secara baik dan betul. Anak-anak sangat bersemangat dan antusias untuk mengikuti penanaman tauge ini. Selain dari nilai cinta alam dengan menanam ini kami juga mengajarkan nilai kesabaran  dan kami mengajarkan bagaimana cara mengantri yang baik dan mengajarkan nilai kesopanan dengan setelah memberikan barang harus mengucapkan terima kasih karna tidak setiap anak-anak mau mengucapkan terima kasih. Kami menutup acara pada pukul 17.30 dan membagikan permen sebagai hadiah.
BAB V
KESIMPULAN
Pertemuan kedua kali ini anak-anak sangat antusias dan bersemangat, anak-anak sangat senang dengan adanya kegiatan ini hal itu juga membuat kami semua senang karna kegiatan ini memberikan dampak positif yang memberikan pelajaran dan nilai-nilai positif lain. Masih ada beberapa anak yang tidak mengetahui bahwa tauge ditanam dari biji kacang hijau sehingga hal ini sangat memberikan mereka informasi. Kami juga menjadi lebih dekat dengan anak-anak karna melakukan banyak interaksi dengan anak-anak.

6.1 refleksi dari Anggita
Pada pertemuan kedua, kami datang dengan mempersiapkan hal-hal yang akan kami lakukan bersama anak-anak yaitu menanam tauge. Kegiatan ini sangat menambah pengetahuan mereka, karena sebelumnya mereka tidak mengerti cara penanaman tauge yang berasal dari biji kacang hijau. Mereka sangat semangat dan antusias dalam kegiatan ini sehingga juga membuat kami semangat untuk terus mengajari mereka. Dan dengan kegiatan ini semoga kami dan anak-anak bisa terus mendapatkan pengetahuan yang kami semua belum mengetahuinya.
6.2 refleksi dari Angeline
Kedua kalinya saya pergi ke panti asuhan kasih sesama umat, kami berencana untuk mengadakan acara kegiatan menanam bersama anak-anak yang disambut antusias oleh anak-anak. 
Melalui kegiatan ini, kami dapat menjadi lebih dekat dengan anak-anak dan dapat mengajarkan kepada mereka sebuah pengalaman baru juga sikap-sikap tertib saat dibagikan peralatan.
6.3 refleksi dari Jessica
Pada pertemuan kedua ini saya menyadari bahwa setiap kehidupan merupakan sesuatu yang sangat berharga dan tidak boleh di sia siakan. Oleh karna itu saya bersyukur atas kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan kepada saya dan tidak akan menyia nyiakan apa yang telah Tuhan berikan kepada saya 
6.4 refleksi dari Elisabeth
Pada peetemuan kedua ini saya semakin belajar untuk lebih bersyukur dengan keadaan yang saya miliki. Saya bersyukur karena saya dapat bersekolh di sekolah yang terbaik, mungkin masih banyak adik-adik yang belum bisa bersekolah. 
6.5 refleksi dari Novalia
Pada pertemuan ke2 ini Kegiatannya adalah mengajarkan anak anak panti asuhan yng berlokasi di alam sutera untuk menanam tauge dari biji  kacang hijau. Mereka sangat senang dalam kegiatan tsb. Ini semua agar mereka dapat belajar merawat tanaman
6.6 refleksi dari Nerissa
Pada pertemuan kedua ini, kami mengajarkan anak - anak panti asuhan menenam tauge dari biji kacang hijau. Tujuan menanam tauge ini agar anak - anak panti asuhan diajarkan untuk merawat tanaman, agar kelak jika tanaman itu berkembang, dapat memberikan manfaat yg baik juga dikedepannya.
6.7 refleksi dari Vivian
Pertemuan kali ini kami mendapatkan banyak nilai positif, bukan hanya dari segi cinta alam. Nilai kesabaran dan nilai kesopanan. Kami makin sabar dalam menghadapi anak-anak yang terkadang susah untuk diam, tapi kami tetap senang mengajarkan nya. Anak-anak juga kami ajarkan untuk nilai kesopanan dengan kesepakatan setelah mendapatkan barang harus mengucapkan terima kasih. Kami juga menyadari ada beberapa anak yang tidak mengetahui bahwa tauge dari kacang hijau sehingga hal ini memberikan mereka pelajaran lebih dan kami juga lebih mengerti bagaimana untuk lebih dekat dengan anak-anak.

Kamis, 06 April 2017

LAPORAN KEGIATAN 20 MARET 2017

LA24

Vivian - 1901461426
Nerissa Arviana J - 1901460770
Anggita Prahasta - 1901460404     
Jessica Lauwrin - 1901462302      
Elisabeth - 1901478401
Novalia - 1901486321

Angeline Thalia W - 1901461022



BAB I
PENDAHULUAN

Panti Asuhan merupakan lembaga yang bergerak di bidang sosial untuk membantu anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), panti asuhan merupakan sebuah tempat untuk merawat dan memelihara anak-anak yatim atau yatim piatu. Pengertian yatim adalah tidak memiliki seorang ayah, sedangkan yatim piatu adalah tidak memiliki seorang ayah dan ibu. Namun, tidak hanya untuk anak yatim maupun yatim piatu, panti asuhan juga terbuka untuk anak-anak selain mereka, seperti anak terlantar. Anak- anak yang kurang beruntung seperti yang dipaparkan di atas juga dapat bertempat tinggal di panti asuhan.
Panti asuhan didirikan untuk membina dan mendidik serta memelihara anak-anak agar mendapat kehidupan yang layak baik dari segi ekonomi, sosial, dan pendidikan demi masa depan mereka. Melalui panti asuhan anak didik dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang dapat mengembangkan diri siswa baik dari segi jasmani dan rohani seperti ilmu pengetahuan dan kreativitas. Panti asuhan dapat membentuk pribadi anak menjadi anak yang mandiri dan membentuk sikap diri yang sempurna, panti asuhan memiliki sesuatu yang dapat membuat anak sehingga memperoleh konsep diri yang sempurna sesuai dengan ilmu pengetahuan dan ajaran agama sehingga menjadi anak yang mandiri dan memiliki masa depan yang cerah.
Setiap anak lahir dalam keadaan tidak sempurna, karena itu melalui pembentukan pribadi, pandangan pribadi serta sikap peribadi di tengah-tengah lingkungan tempat dimana seseorang berada lahir berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, sehingga anak memiliki pandangan dan keyakinan terhadap dirinya baik yang bersifat positif maupun negatif.
Menurut Wagnid dan Young (dalam Reich, dkk, 2010) dalam mengembangkan resiliensi, peran religiusitas cukup penting, karena salah satu faktor internal yang mempengaruhi resiliensi adalah religiusitas. Menurut Hardjana (dalam Ghufron & Risnawita, 2010), religiusitas adalah perasaan dan kesadaran akan hubungan dan ikatan kembali dengan Tuhan. Religiusitas menunjuk pada tingkat ketertarikan  individu terhadap agamanya dengan menghayati dan menginternalisasikan ajaran agamanya sehingga berpengaruh dalam segala tindakan dan pandangan hidupnya. Jika religiusitas yang dimiliki remaja tinggi maka akan berpengaruh pula pada kemampuan resiliensinya sehingga akan terbentuk sikap- sikap positif, begitu juga sebaliknya religiusitas yang rendah akan mempengaruhi kemampuan resiliensi individu sehingga sikap-sikap yang terbentuk pada diri individu cenderung negatif.



BAB II
MASALAH

Di pertemuan pertama kami pada tanggal 20 Maret 2017, kami seluruh anggota kelompok mengunjungi Panti Asuhan Kasih Sesama Umat yang terletak pada Sutera Cemara, Alam Sutera. Dikarenakan jumlah anak-anak yang berada di panti saat itu berjumlah 25 orang, kami memutuskan untuk melakukan perkenalan dan mendekatkan diri dengan anak-anak. Pendekatan yang dilakukan cukup sulit dikarenakan banyaknya anak dibanding anggota kelompok berbanding 1:3. Dikarenakan anak-anak yang berusia balita cukup banyak, maka kami sedikit kewalahan untuk menjaga mereka.


BAB III
METODE KEGIATAN

Dengan tema “Mengenal Alam Lebih Baik”, kami melakukan perkenalan diri dengan anak-anak menggunakan games yang berupa games alphabet. Games ini dilakukan dengan diawali seperti permainan ABC 5 dasar. Banyaknya angka yang keluar menentukan alfabet apa yang akan muncul. Lalu dari alfabet tersebut, seluruh anak menyebutkan nama anak / anggota kelompok yang berawalan huruf dari alfabet yang muncul tadi. Misalkan: 3 anak bermain. Anak pertama mengeluarkan angka 2. Anak kedua mengeluarkan angka 3. Anak ketiga mengeluarkan angka 4. Maka total angka adalah 9. Sehingga dalam alfabet muncul huruf “i”. Maka, anak-anak akan menyebutkan nama teman/ anggota kelompok yang berawalan huruf “i” (Israel).


BAB IV
PELAKSANAAN
Kami memulai dengan berkumpul semua anggota kelompok di Lobby Universitas Binus pukul 15:30 pada tanggal 20 Maret , ketika semua sudah berkumpul kita pun pergi ke Panti Asuhan yang berjarak kurang lebih  10 menit. Panti Asuhan yang kami datangi merupakan Panti Asuhan yang berada disalah satu Cluster di daerah Alam Sutera, yaitu Panti Asuhan Kasih Sesama Umat. Pertemuan pertama kami mengambil tema “Mengenal Alam Lebih Baik”, dengan kedatangan kami yang pertama kami pun mulai berkenalan dengan adik-adik yang berada di Panti tersebut. Kami berkenalan dengan satu sama lain menggunakan games alphabet sehingga adik-adikpun dapat lebih bersemangat. Selain berkenalan kami pun juga mendekatkan diri denga adik-adik yang ada sehingga kami pun dapat mengenal mereka lebih baik lagi. Pada pertemuan pertama ini pun dapat membuat kami lebih mengetahui jumlah anak yang ada serta bagaimana keseharian adik-adik di Panti. Walaupun pada awalnya kami sedikit kewalahan tapi lama-lama kaamipun terbiasa. Acara pun kami tutup kurang lebih pukul 17:35,  kami pun harus tutup acara sebelum jam 6 dikarenakan pada pukul 18:00 para adik-adik akan menyantap makan malam. Setelah semua selesai kami pun berpamitan pada pengurus panti serta adik-adik yang ada disitu.

BAB VI
KESIMPULAN
Pada pertemuan pertama kami masih banyak kesalahan selain itu masih banyak nya hal yang belum kami ketahui, sehingga kami sedikit tidak terbiasa. Adik-adik di Panti pun cukup dapat bersosialisasi meskipun belum semuanya benar-benar aktif tapi setidaknya masih banyak yang dapat bersosialisasi dengan baik dengan kami. Kurang nya informasi lengkap mengenai kemampuan anak sedikit membuat kewalahan, tapi lama kelaamaan kami pun sudah mulai terbiasa.

6.1 Refleksi dari Anggita Prahasta
Keadaan disana cukup baik dan anak-anak bermain bersama dengan akur dan mau mendengarkan apa yang telah kita nasehatkan. Tetapi area bermain untuk mereka sedikit terlalu sempit untuk ukuran 15 orang anak, jadi mereka kurang leluasa untuk bergerak. Tetapi, sistem yang diberikan dari ibu-ibu panti kepada anak-anaknya sangat disiplin. Seperti waktu-waktu yang telah ditentukan ketika waktu mereka makan, mandi dan beribadah. Sehingga anak-anak disana bukan hanya baik dan sopan tetapi mereka juga mematuhi aturan yang telah ditetapkan sehingga menjadi pribadi yang disiplin untuk kedepannya.
6.2 Refleksi dari Angeline ThaliaWijaya
Perkenalan yang dilakukan pada saat di Panti Asuhan Kasih Sesama Umat kurang menarik, sehingga anak-anak sulit untuk diajak bekerja sama. Meskipun pada akhirnya, anak-anak dapat diajak bermain bersama. Oleh karena itu, menurut saya pendekatan itu penting adanya kepada anak-anak. Sehingga kegiatan apapun yang dilakukan kedepannya dapat dihargai oleh anak-anak. Dibanding memanggil mereka dengan “woi” atau “hei”, anak-anak akan lebih mendengarkan jika dipanggil berdasarkan nama mereka.
6.3 Refleksi dari Elisabeth
Dengan kesempatan untuk datang ke panti asuhan, saya belajar banyak hal. Bahwa seharusnya saya sangat bersyukur atas keadaan yang saya miliki. Saya memiliki keluarga yang lengkap dan baik, disaat maish banyaknya anak-anak diluar sana yang bahkan tidak memiliki orang tua. Bahkan ada anak-anak yang sangat kecil sudah ditinggalkan oleh orang tuanya. Selain itu juga saya belajar bahwa saya tidak boleh hanya melihat keatas, karena dibawah saya masih banyak yang kekurangan namun mereka tetap dapat bersyukur. Dengan datangnya ke panti, saya dapat tambah bersyukur dengan berkat serta keluarga yang Tuhan sudah berikan kepada saya, serta saya juga berterimakasih kepada orang tua yang telah merawat saya hingga sekarang.

6.4 Refleksi dari Jessica Lauwrin
Selama kunjungan saya ke panti, saya menyadari bahwa masih banyak anak yang ditinggalkan begitu saja oleh orang tuanya, bahkan ada yang ditinggal oleh orang tuanya sejak masih sangat kecil. Hal tersebut membuat saya merasa bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepada saya dan berterima kasih kepada orang tua yang mengasihi saya.
6.5 Refleksi dari Nerissa Arviana J
Kita harus belajar dari anak panti asuhan. Kadang guru yang kita butuhkan itu bukanlah hanya guru yang mengajar di sekolah atau pendidikan formal lainnya, tetapi sebenarnya guru yang kita butuhkan adalah orang yang lebih tidak beruntung daripada kita. Agar kita sadar dan mau mengoreksi diri. Tentu kita harus bersyukur jika nasib kita jauh lebih beruntung daripada mereka, tetapi kita juga tidak boleh lupa untuk melihat kebawah, tidak hanya selalu melihat keatas.
6.6 Refleksi dari Novalia
Pada hari senin tanggal 20 maret, saya dan beberapa teman saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan kegiatan bakti sosial ke satu panti asuhan yang berlokasi alam sutera. Jujur, ini pertama kalinya saya melakukan kunjungan ke panti asuhan. Disana kami berkenalan dan bermain bersama. Kesimpulan yang dapat saya ambil adalah kita harus belajar dari anak panti asuhan. Kadang guru yang kita butuhkan itu bukanlah hanya guru yang mengajar di sekolahan atau pendidikan formal lainnya, tetapi sebenarnya guru yang kita butuhkan adalah orang yang lebih tidak beruntung daripada kita. Agar kita sadar. Tentu kita harus bersyukur jika nasib kita jauh lebih beruntung daripada mereka, tetapi kita juga tidak boleh lupa untuk melihat ke bawah, tidak hanya selalu melihat keatas,
6.7 Refleksi dari Vivian
Keadaan disana cukup baik dan anak-anak bermain bersama dengan akur dan mau mendengarkan apa yang kita nasehatkan.



BAB VII
LAMPIRAN









 



Rabu, 05 April 2017

Laporan Survey

LAPORAN SURVEY
  • Vivian                                  1901461426
  • Nerissa Arviana J                  1901460770
  • Anggita Prahasta                  1901460404
  • Elisabeth SW                        1901478401
  • Jessica Lauwrin                    1901462302
  • Angeline Thalia Wijaya         1901461022
  • Novalia                                1901486321

PENDAHULUAN

Panti Asuhan merupakan lembaga yang bergerak di bidang sosial untuk membantu anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), panti asuhan merupakan sebuah tempat untuk merawat dan memelihara anak-anak yatim atau yatim piatu. Pengertian yatim adalah tidak memiliki seorang ayah, sedangkan yatim piatu adalah tidak memiliki seorang ayah dan ibu. Namun, tidak hanya untuk anak yatim maupun yatim piatu, panti asuhan juga terbuka untuk anak-anak selain mereka, seperti anak terlantar. Anak- anak yang kurang beruntung seperti yang dipaparkan di atas juga dapat bertempat tinggal di panti asuhan. 

Panti asuhan didirikan untuk membina dan mendidik serta memelihara anak-anak agar mendapat kehidupan yang layak baik dari segi ekonomi, sosial, dan pendidikan demi masa depan mereka. Melalui panti asuhan anak didik dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang dapat mengembangkan diri siswa baik dari segi jasmani dan rohani seperti ilmu pengetahuan dan kreativitas. Panti asuhan dapat membentuk pribadi anak menjadi anak yang mandiri dan membentuk sikap diri yang sempurna, panti asuhan memiliki sesuatu yang dapat membuat anak sehingga memperoleh konsep diri yang sempurna sesuai dengan ilmu pengetahuan dan ajaran agama sehingga menjadi anak yang mandiri dan memiliki masa depan yang cerah. 

Setiap anak lahir dalam keadaan tidak sempurna, karena itu melalui pembentukan pribadi, pandangan pribadi serta sikap peribadi di tengah-tengah lingkungan tempat dimana seseorang berada lahir berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, sehingga anak memiliki pandangan dan keyakinan terhadap dirinya baik yang bersifat positif maupun negatif. 

Menurut Wagnid dan Young (dalam Reich, dkk, 2010) dalam mengembangkan resiliensi, peran religiusitas cukup penting, karena salah satu faktor internal yang mempengaruhi resiliensi adalah religiusitas. Menurut Hardjana (dalam Ghufron & Risnawita, 2010), religiusitas adalah perasaan dan kesadaran akan hubungan dan ikatan kembali dengan Tuhan. Religiusitas menunjuk pada tingkat ketertarikan individu terhadap agamanya dengan menghayati dan menginternalisasikan ajaran agamanya sehingga berpengaruh dalam segala tindakan dan pandangan hidupnya. Jika religiusitas yang dimiliki remaja tinggi maka akan berpengaruh pula pada kemampuan resiliensinya sehingga akan terbentuk sikap- sikap positif, begitu juga sebaliknya religiusitas yang rendah akan mempengaruhi kemampuan resiliensi individu sehingga sikap-sikap yang terbentuk pada diri individu cenderung negatif.

ISI

Pada hari Jumat pada tanggal 3 maret 2017, kelompok kami berdiskusi dan mencara panti asuhan dan panti jompo yang dapat kami kunjungi. Setelah kami mencari di internet, kami menemukan dua tempat yang ingin kami kunjungi. Yang pertama adalah Panti Asuhan Tunas Harapan yang berlokasi di Jl Sutera Cemara II 8 Kompl Alam Sutera, Pondok Jagung, Serpong, Tangerang. Dan yang kedua merupakan Panti Jompo & Panti Asuhan Kemah Beth Shalom, yang berlokasi di  Jl. Ciater Rw. Mekar Jaya No.14, RT.2/RW.1, Rw. Mekar Jaya, Serpong, Kota Tangerang Selatan. 

Pada hari senin, 6 maret 2017, kelompok kami memulai survey kami pada Panti Asuhan Tunas Harapan yang berlokasi di Alam Sutera. Setibanya kami disana, kami disambut oleh ibu yang mengurus panti asuhan tersebut dengan ramah,  kemudian kami menjelaskan maksud dari kedatangan kami yaitu untuk melakukan kampanye mengenai agama dan juga membantu sesama. Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami pun, kami diterima oleh ibu pengurus panti tersebut dan kami mulai menyesuaikan jadwal kedatangan kami dengan panti asuhan tersebut. 




Pada hari Jumat, 10 Maret 2017, kelompok kami melakukan survey di lokasi kedua yaitu Panti Jompo & Panti Asuhan Kemah Beth Shalom, yang berlokasi di  Jl. Ciater Rw. Mekar Jaya No.14, RT.2/RW.1, Rw. Mekar Jaya, Serpong, Kota Tangerang Selatan. Sebelum kami berkunjung, kami menelefon panti tersebut terlebih dahulu untuk menyesuaikan waktu kunjungan kami, dan kami setuju untuk mengunjungi pada hari Jumat, 10 Maret, 2017 pada pukul 14.00. setibanya kami disana, kami disambut dengan ramah oleh ibu pengurus panti tersebut akan tetapi setibanya kami disana, jadwal panti jompo dan panti asuhan Kemah Beth Shalom sudah penuh, sehingga kami hanya dapat melakukan kegiatan pada bulan Mei. 



KESIMPULAN

Setelah melakukan survey pada kedua tempat, akhirnya kami memutuskan untuk memilih Panti Asuhan Tunas Harapan yang berlokasi di  Jl Sutera Cemara II 8 Kompl Alam Sutera, sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan kami.