Kamis, 06 April 2017

LAPORAN KEGIATAN 20 MARET 2017

LA24

Vivian - 1901461426
Nerissa Arviana J - 1901460770
Anggita Prahasta - 1901460404     
Jessica Lauwrin - 1901462302      
Elisabeth - 1901478401
Novalia - 1901486321

Angeline Thalia W - 1901461022



BAB I
PENDAHULUAN

Panti Asuhan merupakan lembaga yang bergerak di bidang sosial untuk membantu anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), panti asuhan merupakan sebuah tempat untuk merawat dan memelihara anak-anak yatim atau yatim piatu. Pengertian yatim adalah tidak memiliki seorang ayah, sedangkan yatim piatu adalah tidak memiliki seorang ayah dan ibu. Namun, tidak hanya untuk anak yatim maupun yatim piatu, panti asuhan juga terbuka untuk anak-anak selain mereka, seperti anak terlantar. Anak- anak yang kurang beruntung seperti yang dipaparkan di atas juga dapat bertempat tinggal di panti asuhan.
Panti asuhan didirikan untuk membina dan mendidik serta memelihara anak-anak agar mendapat kehidupan yang layak baik dari segi ekonomi, sosial, dan pendidikan demi masa depan mereka. Melalui panti asuhan anak didik dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang dapat mengembangkan diri siswa baik dari segi jasmani dan rohani seperti ilmu pengetahuan dan kreativitas. Panti asuhan dapat membentuk pribadi anak menjadi anak yang mandiri dan membentuk sikap diri yang sempurna, panti asuhan memiliki sesuatu yang dapat membuat anak sehingga memperoleh konsep diri yang sempurna sesuai dengan ilmu pengetahuan dan ajaran agama sehingga menjadi anak yang mandiri dan memiliki masa depan yang cerah.
Setiap anak lahir dalam keadaan tidak sempurna, karena itu melalui pembentukan pribadi, pandangan pribadi serta sikap peribadi di tengah-tengah lingkungan tempat dimana seseorang berada lahir berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, sehingga anak memiliki pandangan dan keyakinan terhadap dirinya baik yang bersifat positif maupun negatif.
Menurut Wagnid dan Young (dalam Reich, dkk, 2010) dalam mengembangkan resiliensi, peran religiusitas cukup penting, karena salah satu faktor internal yang mempengaruhi resiliensi adalah religiusitas. Menurut Hardjana (dalam Ghufron & Risnawita, 2010), religiusitas adalah perasaan dan kesadaran akan hubungan dan ikatan kembali dengan Tuhan. Religiusitas menunjuk pada tingkat ketertarikan  individu terhadap agamanya dengan menghayati dan menginternalisasikan ajaran agamanya sehingga berpengaruh dalam segala tindakan dan pandangan hidupnya. Jika religiusitas yang dimiliki remaja tinggi maka akan berpengaruh pula pada kemampuan resiliensinya sehingga akan terbentuk sikap- sikap positif, begitu juga sebaliknya religiusitas yang rendah akan mempengaruhi kemampuan resiliensi individu sehingga sikap-sikap yang terbentuk pada diri individu cenderung negatif.



BAB II
MASALAH

Di pertemuan pertama kami pada tanggal 20 Maret 2017, kami seluruh anggota kelompok mengunjungi Panti Asuhan Kasih Sesama Umat yang terletak pada Sutera Cemara, Alam Sutera. Dikarenakan jumlah anak-anak yang berada di panti saat itu berjumlah 25 orang, kami memutuskan untuk melakukan perkenalan dan mendekatkan diri dengan anak-anak. Pendekatan yang dilakukan cukup sulit dikarenakan banyaknya anak dibanding anggota kelompok berbanding 1:3. Dikarenakan anak-anak yang berusia balita cukup banyak, maka kami sedikit kewalahan untuk menjaga mereka.


BAB III
METODE KEGIATAN

Dengan tema “Mengenal Alam Lebih Baik”, kami melakukan perkenalan diri dengan anak-anak menggunakan games yang berupa games alphabet. Games ini dilakukan dengan diawali seperti permainan ABC 5 dasar. Banyaknya angka yang keluar menentukan alfabet apa yang akan muncul. Lalu dari alfabet tersebut, seluruh anak menyebutkan nama anak / anggota kelompok yang berawalan huruf dari alfabet yang muncul tadi. Misalkan: 3 anak bermain. Anak pertama mengeluarkan angka 2. Anak kedua mengeluarkan angka 3. Anak ketiga mengeluarkan angka 4. Maka total angka adalah 9. Sehingga dalam alfabet muncul huruf “i”. Maka, anak-anak akan menyebutkan nama teman/ anggota kelompok yang berawalan huruf “i” (Israel).


BAB IV
PELAKSANAAN
Kami memulai dengan berkumpul semua anggota kelompok di Lobby Universitas Binus pukul 15:30 pada tanggal 20 Maret , ketika semua sudah berkumpul kita pun pergi ke Panti Asuhan yang berjarak kurang lebih  10 menit. Panti Asuhan yang kami datangi merupakan Panti Asuhan yang berada disalah satu Cluster di daerah Alam Sutera, yaitu Panti Asuhan Kasih Sesama Umat. Pertemuan pertama kami mengambil tema “Mengenal Alam Lebih Baik”, dengan kedatangan kami yang pertama kami pun mulai berkenalan dengan adik-adik yang berada di Panti tersebut. Kami berkenalan dengan satu sama lain menggunakan games alphabet sehingga adik-adikpun dapat lebih bersemangat. Selain berkenalan kami pun juga mendekatkan diri denga adik-adik yang ada sehingga kami pun dapat mengenal mereka lebih baik lagi. Pada pertemuan pertama ini pun dapat membuat kami lebih mengetahui jumlah anak yang ada serta bagaimana keseharian adik-adik di Panti. Walaupun pada awalnya kami sedikit kewalahan tapi lama-lama kaamipun terbiasa. Acara pun kami tutup kurang lebih pukul 17:35,  kami pun harus tutup acara sebelum jam 6 dikarenakan pada pukul 18:00 para adik-adik akan menyantap makan malam. Setelah semua selesai kami pun berpamitan pada pengurus panti serta adik-adik yang ada disitu.

BAB VI
KESIMPULAN
Pada pertemuan pertama kami masih banyak kesalahan selain itu masih banyak nya hal yang belum kami ketahui, sehingga kami sedikit tidak terbiasa. Adik-adik di Panti pun cukup dapat bersosialisasi meskipun belum semuanya benar-benar aktif tapi setidaknya masih banyak yang dapat bersosialisasi dengan baik dengan kami. Kurang nya informasi lengkap mengenai kemampuan anak sedikit membuat kewalahan, tapi lama kelaamaan kami pun sudah mulai terbiasa.

6.1 Refleksi dari Anggita Prahasta
Keadaan disana cukup baik dan anak-anak bermain bersama dengan akur dan mau mendengarkan apa yang telah kita nasehatkan. Tetapi area bermain untuk mereka sedikit terlalu sempit untuk ukuran 15 orang anak, jadi mereka kurang leluasa untuk bergerak. Tetapi, sistem yang diberikan dari ibu-ibu panti kepada anak-anaknya sangat disiplin. Seperti waktu-waktu yang telah ditentukan ketika waktu mereka makan, mandi dan beribadah. Sehingga anak-anak disana bukan hanya baik dan sopan tetapi mereka juga mematuhi aturan yang telah ditetapkan sehingga menjadi pribadi yang disiplin untuk kedepannya.
6.2 Refleksi dari Angeline ThaliaWijaya
Perkenalan yang dilakukan pada saat di Panti Asuhan Kasih Sesama Umat kurang menarik, sehingga anak-anak sulit untuk diajak bekerja sama. Meskipun pada akhirnya, anak-anak dapat diajak bermain bersama. Oleh karena itu, menurut saya pendekatan itu penting adanya kepada anak-anak. Sehingga kegiatan apapun yang dilakukan kedepannya dapat dihargai oleh anak-anak. Dibanding memanggil mereka dengan “woi” atau “hei”, anak-anak akan lebih mendengarkan jika dipanggil berdasarkan nama mereka.
6.3 Refleksi dari Elisabeth
Dengan kesempatan untuk datang ke panti asuhan, saya belajar banyak hal. Bahwa seharusnya saya sangat bersyukur atas keadaan yang saya miliki. Saya memiliki keluarga yang lengkap dan baik, disaat maish banyaknya anak-anak diluar sana yang bahkan tidak memiliki orang tua. Bahkan ada anak-anak yang sangat kecil sudah ditinggalkan oleh orang tuanya. Selain itu juga saya belajar bahwa saya tidak boleh hanya melihat keatas, karena dibawah saya masih banyak yang kekurangan namun mereka tetap dapat bersyukur. Dengan datangnya ke panti, saya dapat tambah bersyukur dengan berkat serta keluarga yang Tuhan sudah berikan kepada saya, serta saya juga berterimakasih kepada orang tua yang telah merawat saya hingga sekarang.

6.4 Refleksi dari Jessica Lauwrin
Selama kunjungan saya ke panti, saya menyadari bahwa masih banyak anak yang ditinggalkan begitu saja oleh orang tuanya, bahkan ada yang ditinggal oleh orang tuanya sejak masih sangat kecil. Hal tersebut membuat saya merasa bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepada saya dan berterima kasih kepada orang tua yang mengasihi saya.
6.5 Refleksi dari Nerissa Arviana J
Kita harus belajar dari anak panti asuhan. Kadang guru yang kita butuhkan itu bukanlah hanya guru yang mengajar di sekolah atau pendidikan formal lainnya, tetapi sebenarnya guru yang kita butuhkan adalah orang yang lebih tidak beruntung daripada kita. Agar kita sadar dan mau mengoreksi diri. Tentu kita harus bersyukur jika nasib kita jauh lebih beruntung daripada mereka, tetapi kita juga tidak boleh lupa untuk melihat kebawah, tidak hanya selalu melihat keatas.
6.6 Refleksi dari Novalia
Pada hari senin tanggal 20 maret, saya dan beberapa teman saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan kegiatan bakti sosial ke satu panti asuhan yang berlokasi alam sutera. Jujur, ini pertama kalinya saya melakukan kunjungan ke panti asuhan. Disana kami berkenalan dan bermain bersama. Kesimpulan yang dapat saya ambil adalah kita harus belajar dari anak panti asuhan. Kadang guru yang kita butuhkan itu bukanlah hanya guru yang mengajar di sekolahan atau pendidikan formal lainnya, tetapi sebenarnya guru yang kita butuhkan adalah orang yang lebih tidak beruntung daripada kita. Agar kita sadar. Tentu kita harus bersyukur jika nasib kita jauh lebih beruntung daripada mereka, tetapi kita juga tidak boleh lupa untuk melihat ke bawah, tidak hanya selalu melihat keatas,
6.7 Refleksi dari Vivian
Keadaan disana cukup baik dan anak-anak bermain bersama dengan akur dan mau mendengarkan apa yang kita nasehatkan.



BAB VII
LAMPIRAN









 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar