LAPORAN KEGIATAN 3 april 2017
LA24
Vivian - 1901461426
Nerisaa Arviana J - 1901460770
Anggita Prahasta - 1901460404
Jessica Lauwrin - 1901462302
Elisabeth - 1901478401
Novalia - 1901486321
Angeline Thalia W - 1901461022
BAB I
PENDAHULUAN
Panti Asuhan merupakan lembaga yang bergerak di bidang sosial untuk membantu anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), panti asuhan merupakan sebuah tempat untuk merawat dan memelihara anak-anak yatim atau yatim piatu. Pengertian yatim adalah tidak memiliki seorang ayah, sedangkan yatim piatu adalah tidak memiliki seorang ayah dan ibu. Namun, tidak hanya untuk anak yatim maupun yatim piatu, panti asuhan juga terbuka untuk anak-anak selain mereka, seperti anak terlantar. Anak- anak yang kurang beruntung seperti yang dipaparkan di atas juga dapat bertempat tinggal di panti asuhan.
Panti asuhan didirikan untuk membina dan mendidik serta memelihara anak-anak agar mendapat kehidupan yang layak baik dari segi ekonomi, sosial, dan pendidikan demi masa depan mereka. Melalui panti asuhan anak didik dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang dapat mengembangkan diri siswa baik dari segi jasmani dan rohani seperti ilmu pengetahuan dan kreativitas. Panti asuhan dapat membentuk pribadi anak menjadi anak yang mandiri dan membentuk sikap diri yang sempurna, panti asuhan memiliki sesuatu yang dapat membuat anak sehingga memperoleh konsep diri yang sempurna sesuai dengan ilmu pengetahuan dan ajaran agama sehingga menjadi anak yang mandiri dan memiliki masa depan yang cerah.
Setiap anak lahir dalam keadaan tidak sempurna, karena itu melalui pembentukan pribadi, pandangan pribadi serta sikap peribadi di tengah-tengah lingkungan tempat dimana seseorang berada lahir berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, sehingga anak memiliki pandangan dan keyakinan terhadap dirinya baik yang bersifat positif maupun negatif.
Menurut Wagnid dan Young (dalam Reich, dkk, 2010) dalam mengembangkan resiliensi, peran religiusitas cukup penting, karena salah satu faktor internal yang mempengaruhi resiliensi adalah religiusitas. Menurut Hardjana (dalam Ghufron & Risnawita, 2010), religiusitas adalah perasaan dan kesadaran akan hubungan dan ikatan kembali dengan Tuhan. Religiusitas menunjuk pada tingkat ketertarikan individu terhadap agamanya dengan menghayati dan menginternalisasikan ajaran agamanya sehingga berpengaruh dalam segala tindakan dan pandangan hidupnya. Jika religiusitas yang dimiliki remaja tinggi maka akan berpengaruh pula pada kemampuan resiliensinya sehingga akan terbentuk sikap- sikap positif, begitu juga sebaliknya religiusitas yang rendah akan mempengaruhi kemampuan resiliensi individu sehingga sikap-sikap yang terbentuk pada diri individu cenderung negatif.
BAB II
MASALAH
Tanggal 3 April 2017 adalah pertemuan ke 2 kami ke Panti Asuhan Sesama Umat yang terletak pada Sutera Cemara, Alam Sutera. Dengan tema "Mengenal Alam Lebih Baik” sehingga Dalam pertemuan kali ini kami melakukan penanaman tumbuhan "Tauge" kami ingin mengajarkan tentang bagaimana tumbuhan perlu dikasihi dan dirawat agar menjadi hal yang bermanfaat bagi kita semua dan mengajarkan anak-anak untuk mencintai alam sedari kecil sehingga mereka dapat tumbuh menjadi calon-calon penerus bangsa yang mencintai alam yang di tinggali nya. Kami memilih tumbuhan "tauge" karna tauge salah satu tumbuhan yang tidak sulit di tanam dengan mengingat anak-anak masih balita-SD dan tauge salah satu sayuran yang sudah mereka kenal dan sering konsumsi sehingga mereka mengetahui darimana asal tauge dan bagaimana cara nya.
BAB III
METODE KEGIATAN
Kami membagi kelompok kami masing-masing untuk membagikan bahan-bahan yang diperlukan untuk melakukan penanaman "tauge", bahan - bahan yang diperlukan adalah :
1. Gelas plastik
2. Kapas
3. Air
4. Biji kacang hijau
Kami membagi kelompok kami sesuai dengan tugas nya masing-masing, Angeline Thalia membagikan gelas plastik, Jessica membagikan kapas, Elisabeth membagikan biji kacang hijau, Anggita, Novalia, Nerissa dan Vivian membantu dan menjelaskan kepada anak-anak sehingga anak-anak mengerti dengan baik dan juga tidak membuat Panti Asuhan menjadi berantakan.
Cara menanam "Tauge" :
- Sediakan gelas plastik yang bersih
- Lalu kapas yang ada di sobek-sobek kecil dan dimasukkan ke gelas plastik
- Setelah itu basahkan kapas dengan air hingga secukupnya
- Setelah kapas basah masukan biji kacang hijau
Masing-masing gelas plastik yang anak-anak buat diberikan nama dengan spidol sehingga anak-anak tahu mana Tauge yang di tanam mereka.
BAB IV
PELAKSANAAN
Kami berkumpul di Panti Asuhan pukul 15.45 dan kami datang lebih awal karna kami juga ingin mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menanam tumbuhan "tauge" setelah itu kami membagi tugas untuk membantu anak-anak menanam tauge. Pertama-tama kita mengumpulkan anak-anak lalu kita menjelaskan tentang apa itu tauge dan apa manfaat tauge untuk tubuh kita yang baik dikonsumsi lalu kita menjelaskan bagaimana cara menanam nya secara baik dan betul. Anak-anak sangat bersemangat dan antusias untuk mengikuti penanaman tauge ini. Selain dari nilai cinta alam dengan menanam ini kami juga mengajarkan nilai kesabaran dan kami mengajarkan bagaimana cara mengantri yang baik dan mengajarkan nilai kesopanan dengan setelah memberikan barang harus mengucapkan terima kasih karna tidak setiap anak-anak mau mengucapkan terima kasih. Kami menutup acara pada pukul 17.30 dan membagikan permen sebagai hadiah.
BAB V
KESIMPULAN
Pertemuan kedua kali ini anak-anak sangat antusias dan bersemangat, anak-anak sangat senang dengan adanya kegiatan ini hal itu juga membuat kami semua senang karna kegiatan ini memberikan dampak positif yang memberikan pelajaran dan nilai-nilai positif lain. Masih ada beberapa anak yang tidak mengetahui bahwa tauge ditanam dari biji kacang hijau sehingga hal ini sangat memberikan mereka informasi. Kami juga menjadi lebih dekat dengan anak-anak karna melakukan banyak interaksi dengan anak-anak.
6.1 refleksi dari Anggita
Pada pertemuan kedua, kami datang dengan mempersiapkan hal-hal yang akan kami lakukan bersama anak-anak yaitu menanam tauge. Kegiatan ini sangat menambah pengetahuan mereka, karena sebelumnya mereka tidak mengerti cara penanaman tauge yang berasal dari biji kacang hijau. Mereka sangat semangat dan antusias dalam kegiatan ini sehingga juga membuat kami semangat untuk terus mengajari mereka. Dan dengan kegiatan ini semoga kami dan anak-anak bisa terus mendapatkan pengetahuan yang kami semua belum mengetahuinya.
6.2 refleksi dari Angeline
Kedua kalinya saya pergi ke panti asuhan kasih sesama umat, kami berencana untuk mengadakan acara kegiatan menanam bersama anak-anak yang disambut antusias oleh anak-anak.
Melalui kegiatan ini, kami dapat menjadi lebih dekat dengan anak-anak dan dapat mengajarkan kepada mereka sebuah pengalaman baru juga sikap-sikap tertib saat dibagikan peralatan.
6.3 refleksi dari Jessica
Pada pertemuan kedua ini saya menyadari bahwa setiap kehidupan merupakan sesuatu yang sangat berharga dan tidak boleh di sia siakan. Oleh karna itu saya bersyukur atas kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan kepada saya dan tidak akan menyia nyiakan apa yang telah Tuhan berikan kepada saya
6.4 refleksi dari Elisabeth
Pada peetemuan kedua ini saya semakin belajar untuk lebih bersyukur dengan keadaan yang saya miliki. Saya bersyukur karena saya dapat bersekolh di sekolah yang terbaik, mungkin masih banyak adik-adik yang belum bisa bersekolah.
6.5 refleksi dari Novalia
Pada pertemuan ke2 ini Kegiatannya adalah mengajarkan anak anak panti asuhan yng berlokasi di alam sutera untuk menanam tauge dari biji kacang hijau. Mereka sangat senang dalam kegiatan tsb. Ini semua agar mereka dapat belajar merawat tanaman
6.6 refleksi dari Nerissa
Pada pertemuan kedua ini, kami mengajarkan anak - anak panti asuhan menenam tauge dari biji kacang hijau. Tujuan menanam tauge ini agar anak - anak panti asuhan diajarkan untuk merawat tanaman, agar kelak jika tanaman itu berkembang, dapat memberikan manfaat yg baik juga dikedepannya.
6.7 refleksi dari Vivian
Pertemuan kali ini kami mendapatkan banyak nilai positif, bukan hanya dari segi cinta alam. Nilai kesabaran dan nilai kesopanan. Kami makin sabar dalam menghadapi anak-anak yang terkadang susah untuk diam, tapi kami tetap senang mengajarkan nya. Anak-anak juga kami ajarkan untuk nilai kesopanan dengan kesepakatan setelah mendapatkan barang harus mengucapkan terima kasih. Kami juga menyadari ada beberapa anak yang tidak mengetahui bahwa tauge dari kacang hijau sehingga hal ini memberikan mereka pelajaran lebih dan kami juga lebih mengerti bagaimana untuk lebih dekat dengan anak-anak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar