BAB 1
PENDAHULUAN
Panti Asuhan
merupakan lembaga yang bergerak di bidang sosial untuk membantu anak-anak yang
sudah tidak memiliki orang tua. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001),
panti asuhan merupakan sebuah tempat untuk merawat dan memelihara anak-anak
yatim atau yatim piatu. Pengertian yatim adalah tidak memiliki seorang ayah,
sedangkan yatim piatu adalah tidak memiliki seorang ayah dan ibu. Namun, tidak
hanya untuk anak yatim maupun yatim piatu, panti asuhan juga terbuka untuk
anak-anak selain mereka, seperti anak terlantar. Anak- anak yang kurang
beruntung seperti yang dipaparkan di atas juga dapat bertempat tinggal di panti
asuhan.
Panti asuhan didirikan untuk membina dan mendidik serta memelihara anak-anak agar mendapat kehidupan yang layak baik dari segi ekonomi, sosial, dan pendidikan demi masa depan mereka. Melalui panti asuhan anak didik dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang dapat mengembangkan diri siswa baik dari segi jasmani dan rohani seperti ilmu pengetahuan dan kreativitas. Panti asuhan dapat membentuk pribadi anak menjadi anak yang mandiri dan membentuk sikap diri yang sempurna, panti asuhan memiliki sesuatu yang dapat membuat anak sehingga memperoleh konsep diri yang sempurna sesuai dengan ilmu pengetahuan dan ajaran agama sehingga menjadi anak yang mandiri dan memiliki masa depan yang cerah.
Setiap anak lahir dalam keadaan tidak sempurna, karena itu melalui pembentukan pribadi, pandangan pribadi serta sikap peribadi di tengah-tengah lingkungan tempat dimana seseorang berada lahir berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, sehingga anak memiliki pandangan dan keyakinan terhadap dirinya baik yang bersifat positif maupun negatif.
Menurut Wagnid dan Young (dalam Reich, dkk, 2010) dalam mengembangkan resiliensi, peran religiusitas cukup penting, karena salah satu faktor internal yang mempengaruhi resiliensi adalah religiusitas. Menurut Hardjana (dalam Ghufron & Risnawita, 2010), religiusitas adalah perasaan dan kesadaran akan hubungan dan ikatan kembali dengan Tuhan. Religiusitas menunjuk pada tingkat ketertarikan individu terhadap agamanya dengan menghayati dan menginternalisasikan ajaran agamanya sehingga berpengaruh dalam segala tindakan dan pandangan hidupnya. Jika religiusitas yang dimiliki remaja tinggi maka akan berpengaruh pula pada kemampuan resiliensinya sehingga akan terbentuk sikap- sikap positif, begitu juga sebaliknya religiusitas yang rendah akan mempengaruhi kemampuan resiliensi individu sehingga sikap-sikap yang terbentuk pada diri individu cenderung negatif.
Panti asuhan didirikan untuk membina dan mendidik serta memelihara anak-anak agar mendapat kehidupan yang layak baik dari segi ekonomi, sosial, dan pendidikan demi masa depan mereka. Melalui panti asuhan anak didik dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang dapat mengembangkan diri siswa baik dari segi jasmani dan rohani seperti ilmu pengetahuan dan kreativitas. Panti asuhan dapat membentuk pribadi anak menjadi anak yang mandiri dan membentuk sikap diri yang sempurna, panti asuhan memiliki sesuatu yang dapat membuat anak sehingga memperoleh konsep diri yang sempurna sesuai dengan ilmu pengetahuan dan ajaran agama sehingga menjadi anak yang mandiri dan memiliki masa depan yang cerah.
Setiap anak lahir dalam keadaan tidak sempurna, karena itu melalui pembentukan pribadi, pandangan pribadi serta sikap peribadi di tengah-tengah lingkungan tempat dimana seseorang berada lahir berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, sehingga anak memiliki pandangan dan keyakinan terhadap dirinya baik yang bersifat positif maupun negatif.
Menurut Wagnid dan Young (dalam Reich, dkk, 2010) dalam mengembangkan resiliensi, peran religiusitas cukup penting, karena salah satu faktor internal yang mempengaruhi resiliensi adalah religiusitas. Menurut Hardjana (dalam Ghufron & Risnawita, 2010), religiusitas adalah perasaan dan kesadaran akan hubungan dan ikatan kembali dengan Tuhan. Religiusitas menunjuk pada tingkat ketertarikan individu terhadap agamanya dengan menghayati dan menginternalisasikan ajaran agamanya sehingga berpengaruh dalam segala tindakan dan pandangan hidupnya. Jika religiusitas yang dimiliki remaja tinggi maka akan berpengaruh pula pada kemampuan resiliensinya sehingga akan terbentuk sikap- sikap positif, begitu juga sebaliknya religiusitas yang rendah akan mempengaruhi kemampuan resiliensi individu sehingga sikap-sikap yang terbentuk pada diri individu cenderung negatif.
BAB 2
POKOK PERMASALAHAN
Di pertemuan terakhir kami pada tanggal 9 April
2017 di panti asuhan Sesama Umat ini kami mengadakan acara makan bersama
sebagai tanda perpisahan kami pada anak – anak panti asuhan, kami mengadakan
acara makan bersama ini dengan tujuan agar dapat berbagi antar manusia dan
menunjukan kepada anak – anak panti asuhan bahwa berbagi itu indah. Selain itu
kami memberikan beberapa bingkisan kepada anak – anak serta ibu pengasuh di
panti asuhan Sesama Umat.
BAB 3
METODE KEGIATAN
Pada pertemuan terakhir kami melakukan acara makan bersama dengan anak-anak yaitu MCdonald’s. Pada jam 12 siang sebelum makan siang kami berdoa bersama terlebih dahulu. Setelah mencuci tangan, kami pun makan bersama. Setelah makan bersama kami foto-foto, lalu membagikan bingkisan kepada mereka,.
BAB 4
PELAKSANAAN
Pada tanggal 9 April, ketika semua sudah berkumpul
kita pun pergi ke Panti Asuhan yang berjarak kurang lebih 10 menit. Panti
Asuhan yang kami datangi yaitu Panti Asuhan Kasih Sesama Umat yang berada di
Alam Sutera. Ini merupakan pertemuan terakhir kita dengan mereka karena itu
kami melakukan acara makan bersama. Kami memberikan saus sambal/tomat, mengoper
minuman dan lain sebagainya. Mereka sangat senang dengan acara ini, Setelah
selesai makan, kita menyuruh mereka untuk berbaris karena seteleh itupun mereka
mendapat bingkisan yang telah kita siapkan. Lalu berkumpul untuk foto-foto.
Mereka mengucapkan terima kasih kepada kita dan kitapun ikut senang. Setelah
semua selesai kami pun berpamitan pada pengurus panti serta adik-adik yang ada
disitu.
BAB 5
KESIMPULAN
5.1 Refleksi dari Anggita Prahasta
Pada hari terakhir, kami sadar banyak anak-anak
panti yang masih kurangnya perhatian dan kasih saying dari orangtua mereka
masing-masing. Saya terdorong untuk ingin lebih peduli kepada mereka agar
mereka tetap dapat merasakannya walau bukan dari orang tua mereka. Kami
mengadakan makan bersama di ruang bermain hingga membagikan bingkisan-bingkisan
yang telah kami siapkan. Kemudian, ditutup dengan salam perpisahan dengan
anak-anak dan pengasuh.
5.2 Refleksi dari Angeline ThaliaWijaya
Kunjungan terakhir kami ke panti ditutup dengan
acara makan bersama dengan anak-anak dan membagikan souvenir yang disambut
meriah oleh anak-anak. Melalui kegiatan makan bersama juga dengan ibu pengurus,
saya merasakan kedekatan dengan anak-anak hanya melalui hal-hal sederhana.
Seperti memberikan saus sambal, mengoper minuman dan lain sebagainya
5.3 Refleksi dari Elisabeth
Pada
kesempatan kami yang terakhir kami pun makan bersama dengan anak-anak disana.
Kesempatan kali ini berbeda dengan yang lain karena kami dapat bersama sama
makan. Adik-adik di panti sangat bahagia ketika kami makan bersama. Saya
belajar bahwa saya sangat bersyukur karena saya dapat memakan makanan yang saya
mau tanpa memikirkan hal lain tidak speerti adik-adik yang ada disana, saya
bersyukur dengan keadaan yang saya miliki sekarang dan bersyukur atas kesempatan
yang ada di hidup saya.
5.4 Refleksi dari Jessica Lauwrin
5.4 Refleksi dari Jessica Lauwrin
Pada pertemuan terakhir ini kami melakukan
makan bersama, dalam kegiatan kali ini tidak hanya untuk kegiatan perpisahan
tetapi kami mengadakan kegiatan makan bersama ini untuk mengajarkan kebersamaan
dan saling berbagi satu sama lain.
5.5 Refleksi dari Nerissa Arviana J
Pada pertemuan terakhir ini, kami mengadakan acara makan
bersama. Dengan acara makan bersama ini, saya menjadi dapat lebih bersyukur
dengan apa yang ada saat ini. Selain itu, setelah melihat anak – anak yatim
piatu selalu terlihat bahagia, maka sepahit apapun kehidupan yang dijalani
harus selalu berbahagia dan tersenyum
5.6 Refleksi dari Novalia
Pada hari Minggu, kunjungan terakhir kami
melakukan acara makan bersama dengan anak-anak panti Asuhan. Mereka sangat
senang sekali. Saya pun merasa bersyukur dengan apa yang telah saya
miliki.Keadaan disana berlangsung dengan sangat baik.
5.7 Refleksi dari Vivian
Pada pertemuan terakhir ini adalah momen yang
paling mengesankan bagi saya pribadi, senang rasanya dengan membawakan mereka
makanan. Dengan kesederhanaan kami makan bersama dengan senang dan juga kami
memberikan bingkisan kecil-kecil yang menjadi kenang-kenangan bagi mereka
semua.
BAB VII
LAMPIRAN























